KD 3.10 EKOSISTEM

Jawaban UKBM
KD 3.10
EKOSISTEM

KB 3


Daur Biogeokimia
            Daur biogeokimia atau daur organik anorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik.
v  Daur biogeokimia terdiri atas daur Nitrogen, daur Air, daur Oksigen dan Karbon, daur Sulfur, serta daur Fosfor.

1.      Daur Biogeokimia
Ø  Daur Air
ü  Evaporasi
Menguapnya air laut, danau, sungai, tanah, dan lain sebagainya berubah menjadi uap air kemudian naik ke atas sampai lapisan atmosfer.
ü  Transpirasi
Menguapnya air pada makhluk hidup (MH) meliputi manusia, hewan, dan tumbuhan.
ü  Sublimasi
Es berubah menjadi uap air tanpa harus lebih dulu berada dalam fase cair. Sumber utamnaya yaitu es kutub utara, kutub selatan, dan es dari pegunungan.
ü  Kondensasi
Uap air akan berubah menjadi partikel es yang berukuran sangat kecil yang dipengaruhi suhu udara rendah. Partikel-partikel es akan saling mendekati dan bersatu membentuk awan dan kabut.
ü  Presipitasi
Pada keadaan jenuh, awan akn menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turu dalam bentuk hujan, salju, es, dan kabut.
ü  Limpasan
Air tersebut berpindah dan bergerak menuju kea rah tempat yang lebih rendah dengan melalui saluran-saluran air seperti sungai, hingga setelah itu masuk ke danau, laut, dan samudra.
ü  Infiltrasi
Setelah hujan, tidak semua air melalui tahap limpasan. Beberapa di antara mereka akan bergerak jauh ke dalam tanah. Air merembes ke bawah dan akan menjadi air tanah.


Ø  Daur Nitrogen
ü  Fiksasi Nitrogen
proses alam, biologis atau abiotik yang mengubah nitrogen di udara menjadi ammonia (NH3). Mikroorganisme yang memfiksasi nitrogen disebut diazotrof. Mikroorganisme ini memiliki enzim nitrogenaze yang dapat menggabungkan hidrogen dan nitrogen. Reaksi untuk fiksasi nitrogen biologis dapat: N2 + 8 H+ + 8 e− → 2 NH3 + H2
Mikroorganisme yang melakukan fiksasi nitrogen antara lain : Cyanobacteria, Azotobacteraceae, Rhizobia, Clostridium, dan Frankia. Selain itu ganggang hijau biru juga dapat memfiksasi nitrogen. Ada 4 cara yang dapat mengonversi unsur nitrogen di atmosfer.
Ø  Fiksasi biologis: beberapa bakteri simbiotik (paling sering dikaitkan dengan tanaman polongan) dan beberapa bakteri yang hidup bebas dapat memperbaiki nitrogen sebagai nitrogen organik.
Ø  Industri fiksasi nitrogen : dengan penggunaan katalis besi, nitrogen atmosfer dan hidrogen (biasanya berasal dari gas alam atau minyak bumi) dapat dikombinasikan untuk membentuk amonia (NH3). Dalam proses Haber-Bosch, N2 adalah diubah bersamaan dengan gas hidrogen (H2) menjadi amonia (NH3).
Ø  Pembakaran bahan bakar fosil : mesin mobil dan pembangkit listrik termal, yang melepaskan berbagai nitrogen oksida (NO3).
Ø  Proses lain: Selain itu, pembentukan NO dari N2 dan O2 karena foton dan terutama petir, dapat memfiksasi nitrogen.
ü  Asimilasi
Tanaman mendapatkan nitrogen dari tanah melalui absorbsi akar baik dalam bentuk ion nitrat atau ion amonium. Sedangkan hewan memperoleh nitrogen dari tanaman yang mereka makan.
Tanaman dapat menyerap ion nitrat atau amonium dari tanah melalui rambut akarnya. Jika nitrat diserap, pertama-tama direduksi menjadi ion nitrit dan kemudian ion amonium untuk dimasukkan ke dalam asam amino, asam nukleat, dan klorofil. Pada tanaman yang memiliki hubungan mutualistik dengan rhizobia, nitrogen dapat berasimilasi dalam bentuk ion amonium langsung dari nodul. Hewan, jamur, dan organisme heterotrof lain mendapatkan nitrogen sebagai asam amino, nukleotida dan molekul organik kecil.
ü  Amonifikasi
Jika tumbuhan atau hewan mati, nitrogen organik diubah menjadi amonium (NH4+) oleh bakteri dan jamur.
ü  Nitrifikasi
Konversi amonium menjadi nitrat dilakukan terutama oleh bakteri yang hidup di dalam tanah dan bakteri nitrifikasi lainnya.
-          Nitrosomonas mengoksidasi amonium (NH4 +) dan mengubah amonia menjadi nitrit (NO2-) yang prosesnya disebut nitritasi.
-          Nitrobacter, bertanggung jawab untuk oksidasi nitrit menjadi dari nitrat (NO3-) yang prosesnya disebut nitratasi.
Proses nitrifikasi dapat ditulis dengan reaksi berikut ini :
1.      NH3 + CO2 + 1.5 O2 + Nitrosomonas → NO2- + H2O + H+
2.      NO2- + CO2 + 0.5 O2 + Nitrobacter → NO3-
3.      NH3 + O2 → NO2− + 3H+ + 2e−
4.      NO2− + H2O → NO3− + 2H+ + 2e
ü  Denitrifikasi
proses reduksi nitrat untuk kembali menjadi gas nitrogen (N2), untuk menyelesaikan siklus nitrogen. Proses ini dilakukan oleh spesies bakteri seperti Pseudomonas dan Clostridium dalam kondisi anaerobik.
Denitrifikasi umumnya berlangsung melalui beberapa kombinasi dari bentuk peralihan sebagai berikut:
NO3− → NO2− → NO + N2O → N2 (g)
Proses denitrifikasi lengkap dapat dinyatakan sebagai reaksi redoks:
2 NO3− + 10 e− + 12 H+ → N2 + 6 H2O
ü  Oksidasi Amonia Anaerobik
nitrit dan amonium dikonversi langsung ke elemen (N2) gas nitrogen. Proses ini membentuk sebagian besar dari konversi nitrogen unsur di lautan. Reduksi dalam kondisi anoxic juga dapat terjadi melalui proses yang disebut oksidasi amonia anaerobik
NH4+ + NO2− → N2 + 2 H2O
Ø  Daur Fosfor
ü  Ketersediaan fosfor dalam tanah berasal dari pelapukan batuan fosfat. Batuan tersebut lapuk oleh perubahan cuaca. Fosfat dari pelapukan batuan fosfat meresap ke dalam tanah dan menyuburkan tanaman sekitarnya.
ü  Fosfat anorganik yang tersedia di dalam tanah diserap tumbuhan. Hewan tidak dapat menyerap fosfat anorganik. Hewan hanya mampu menyerap fosfat organik. Kebutuhan fosfor organik ini terpenuhi dengan cara memakan tumbuhan melalui proses rantai makanan.
ü  Tumbuhan dan hewan yang mati, feses, dan urinnya akan terurai menjadi fosfat organik. Bakteri menguraikan fosfat organik ini menjadi fosfat anorganik. Fosfat ini akan tersimpan ke dalam tanah kembali dan diserap oleh tumbuhan.
ü  Di dalam ekosistem air, juga terjadi daur fosfor. Fosfat yang terlarut di dalam air diserap oleh ganggang dan tumbuhan air. Ikan-ikan mendapatkan fosfat melalui rantai makanan. Dekomposer menguraikan organisme air yang mati serta hasil ekskresinya menjadi fosfat anorganik.
ü  Selain hasil urai dekomposer, sumber fosfat dalam air berasal dari pelapukan batuan mineral (endapan batuan fosfat, fosil tulang) yang hanyut di perairan. Fosfat yang terlarut di lautan dalam akan membentuk endapan fosfor. Endapan ini tidak dapat dimanfaatkan lagi karena tidak ada arus air di perairan dalam. Fosfat yang terlarut di perairan dangkal teraduk oleh arus air sehingga menyuburkan ekosistem. Ekosistem yang subur menjadi tempat hidup bagi banyak biota air.
ü  Di tempat tertentu, terjadi penimbunan fosfor karena penumpukan kotoran burung guano. Burung guano adalah spesies burung laut yang memangsa ikan-ikan laut. Gerombolan burung ini membawa kembali fosfat dari laut menuju darat melalui feses.
Ø  Daur Karbon
ü  Di atmosfer terdapat kandungan CO2 sebanyak 0.03%. Sumber-sumber CO2 di udara berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik.
ü  Karbon dioksida (CO2)di udara dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk ber Fotosintesisdan menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan oleh manusia dan hewan untuk Respirasi.
ü  Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk batubara di dalam tanah.
ü  Batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar CO2 di udara.
ü  Di ekosistem air, pertukaran CO2 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung.
ü  Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat.
ü  Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain.
ü  Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO2 yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat.
ü  Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah CO2 di air.
Ø  Daur Sulfur

ü  Aktivitas vulkanis gunung berapi dan penggunaan bahan bakar fosil akan melepaskan sulfur atau belerang ke atmosfer dalam bentuk gas SO2, gas SO2 di udara akan mengalami oksidasi sehingga membentuk gas sulfat (SO4).
ü  Selain itu, dalam proses pembusukan bahan organik yang dilakukan oleh mikroorganisme pun akan melepaskan belerang, baik ke atmosfer maupun ke dalam tanah dalam bentuk H2S.
ü  Mikroorganisme yang berperan mengubah protein dalam bahan organik menjadi senyawa H2S adalah Aspergillus spp., Neurospora spp., Escherichia spp., dan Proteus spp., sedangkan mikroorganisme pengurai yang berperan merombak karbohidrat dalam bahan organik menjadi H2S dan senyawa lainnya adalah Vibrio desulphuricans, Aerobacter, dan Desulphovibrio.
ü  Gas H2S tersebut nantinya akan mengalami oksidasi di atmosfer sehingga membentuk gas Sulfat SO4. Gas Sulfat akan kembali ke permukaan bumi bersama dengan presipitasi (kejadian hujan).
ü  Oleh karena itu, jika kandungan gas sulfat di udara sangat tinggi maka presipitasi yang dihasilkan akan sangat masam dan fenomena ini disebut sebagai hujan asam.
ü  Gas H2S dalam tanah kemudian akan mengalami reduksi yang menghasilkan unsur tunggal Sulfur (S) yang kemudian mengalami oksidasi oleh bakteri Thiobacillus denitrificans dan Thiobacillus thiooxidans menghasilkan SO4. Setelah itu, SO4 di dalam tanah akan tereduksi kembali menjadi H2S oleh bakteri Thiobacillus thioparus.
2.      Fungsi organisme

TERIMA KASIH


Daftar Pustaka
Rumiyati, Henny Purnamawati, dan Teo Sukoco. 2019. Buku LKS PR Biologi untuk SMA/MA Peminatan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam. Klaten: Intan Pariwara.
Riandari, Henny, dan Ifandari. 2016. Buku Siswa Biologi 1 untuk Kelas X SMA dan MA Kelompok Peminatan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam. Solo: PT Wangsa Jatra Lestari.
Sumber














Komentar

Postingan Populer